Info Lingkungan Kesehatan Sumsel

Tak Lama Lagi Indonesia Akan Ekspor Salai Manusia terbesar didunia

asap 4

Siar Indonesia, Setelah sekian lama kami masyarakat sumsel di asepin (Bahasa Daerah : Palembang) Nampaknya Sebentar lagi kami akan menjadi salai, dan kami yakin Sumsel menjadi sumber produksi salai manusia terbesar di Indonesia saat ini yang mudah-mudahan masuk dalam kategori salai kwalitas Ekspor sehingga tak lama lagi Indonesia akan menjadi peng-ekspor salai manusia terbesar di dunia. “kata Syafarudin ” Warga Masyarakat Kota Palembang.

asap 2

Kualitas udara di Kota Palembang sudah pada level buruk bagi kesehatan akibat kabut asap yang muncul dari kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Selatan sudah mengeluarkan peringatan bagi warga untuk tidak terlalu banyak beraktivitas di luar rumah saat pagi dan sore.

asap 3

BLH Sumatera Selatan juga memberikan informasi pada pihak terkait untuk segera membagikan masker bagi warga sebagai pelindung untuk aktivitas di luar rumah.

Peringatan itu berdasarkan penelitian BLH Sumatera Selatan yang menyebutkan kualitas udara di Palembang kurang baik bagi pernapasan. Sebab, dari dua kali uji kualitas udara yang dilakukan sejak dua pekan terakhir, terjadi peningkatan partikel padat yang dibawa kabut asap, terutama pada pagi dan sore.

Upaya pemadaman kebakaran hutan yang dilakukan Tim Terpadu Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan belum optimal. Dua kali penerbangan dengan dua helikopter untuk melakukan water bombing atau menjatuhkan air dari udara setiap hari masih kesulitan karena titik api kembali muncul di area yang sudah dipadamkan.

Salai Ikan, Ikan yang diasepin
Salai Ikan, Ikan yang diasepin

Hingga hari ini, data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyebutkan bahwa sebaran titik panas di Sumatera Selatan yang terekam satelit Aqua-Terra, sebanyak 66 titik. Masih didominasi di area lahan gambut dalam di Cengal dan Pampangan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan masyarakat Kota Palembang dan beberapa daerah di Provinsi Sumatera Selatan lainnya mulai terganggu kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada beberapa hari terakhir.

“Kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang dan sekitarnya beberapa hari terakhir mulai mengganggu jadwal penerbangan dan aktivitas masyarakat terutama pada pagi hari,” kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama di Palembang.

Ilustrasi: Salai Manusia, Manusia yang diasepin
Ilustrasi: Salai Manusia, Manusia yang diasepin

Dia menjelaskan kabut asap yang menyelimuti udara Kota Palembang dan sekitarnya serta mulai mengganggu berbagai aktivitas masyarakat diprediksi masih terjadi hingga beberapa pekan ke depan karena awal musim hujan diprakirakan pada pertengahan Oktober 2014.

Kabut asap terutama yang menyelimuti Kota Palembang sekarang ini merupakan kiriman dari sejumlah daerah sekitar seperti dari Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Muara Enim, katanya.

Menurut dia, wilayah Sumatera Selatan akhir-akhir ini mulai terdeteksi cukup banyak titik panas (hotspot) yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan perkebunan.

Berdasarkan pantauan melalui satelit Terra dan Aqua pada September 2014, wilayah provinsi yang memiliki 17 kabupaten dan kota ini terdeteksi 20-30 titik api dengan jumlah terbanyak di tiga daerah seperti Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Muara Enim.

Share This: