Berita Jakarta Nasional Pilkada Politik

Survei Indikator: 2 Bulan Terakhir Elektabilitas Ahok Melesat

Jakarta – Pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta tinggal 21 hari lagi, tren elektabilitas pasangan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat terus melonjak naik.

Bahkan menurut survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia, tingkat elektabilitas Ahok-Djarot mulai mengungguli pasangan calon nomor satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi) dan pasangan calon nomor tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi mengatakan pihaknya melakukan survei setelah dilakukan debat kandidat pertama yang digelar pada 13 Januari 2017 lalu. Hasilnya menunjukkan, Ahok dan Djarot leading dalam tingkat elektabilitas calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilgub DKI 2017.

“Terlihat ada kenaikan tingkat elektabilitas Ahok secara pribadi maupun dengan pasangannya Djarot di bulan Desember dan Januari ini. Padahal pada November tahun lalu, tingkat elektabilitas Ahok anjlok,” kata Burhanudin dalam penyampaian hasil survei Indikator Politik di Jalan Cikini V, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/1).

Hal itu terlihat dari peluang para kandidat berdasarkan top of mind lima tokoh pemimpin. Ketika ditanya seandainya ada pemilihan langsung Gubernur DKI hari ini, yang memilih Ahok ada sebanyak 29,8 persen. Kemudian diikuti 20,9 persen memilih Agus dan 17,9 persen memilih Anies. Sedangkan yang memilih tidak menjawab ada sebanyak 31 persen. Sisanya, mengarah pada Gatot Nurmantyo (0,3%) dan Ridwan Kamil (0,2%).

“Bila dilihat dari tren top of mind, dalam dua bulan terakhir ini Ahok mengalami penguatan, sedangkan Agus dan Anies stagnan,” ujarnya.

Begitu juga bila dilakukan simulasi pemilihan gubernur, dari ketiga kandidat, Ahok unggul dengan angka 37,4 persen, disusul dengan Agus sebesar 24,1 persen dan Anies sebesar 22,7 persen.

Hal yang sama juga terjadi saat dilakukan simulasi pilgub DKI terhadap tiga pasangan calon. Lagi-lagi pasangan Ahok-Djarot unggul sebesar 38,2 persen. Di posisi kedua pasangan Anies-Sandi sebesar 23,8 persen dan pasangan Agus-Sylvi sebesar 23,6 persen.

“Artinya, kalau ada putaran kedua, bila Ahok melawan Anies atau Ahok melawan Agus, para penantang Ahok ini masih punya peluang untuk melawan Ahok dan menang. Karena masih banyak pemilih Anies atau Agus yang tidak suka dengan Ahok. Dan masih ada pemilih yang belum menyatakan memilih sebanyak 14,5 persen,” jelasnya.

Burhanudin menjelaskan dibandingkan dengan temuan survei pada awal Desember yang lalu, dukungan terhadap Ahok terindikasi mengalami peningkatan. Dalam simulasi pilihan spontan, Ahok disebut oleh sekitar 29,8 persen atau meningkat sekitar 4,3 persen dibanding sebelumnya.

“Pada simulasi tiga nama dan tiga pasangan nama calon, dukungan terhadap Ahok masing-masing meningkat sekitar 4,5 persen dan 6,4 persen dibandingkan sebelumnya,” tuturnya.

Ia menilai basis dukungan Ahok-Djarot semakin kuat atau meningkat sekitar 5 persen, sementara lawannya, Agus-Sylvi sedikit mengalami penurunan dan elektabilitas Anies-Sandi cenderung stagnan.

Survei Indikator Politik Indonesia dilakukan tanggal 12 Januari – 20 Januari 2017 dengan tema “Efek Debat dan Rasionalitas Pemilih Jakarta Jelang Pilkada”.

Pemilihan topik efek debat karena survei dilakukan setelah debat perdana para pasangan calon yang diselenggarakan KPU Provinsi DKI Jakarta pada 13 Januari 2017.

Dalam survei itu jumlah sampel yang berhasil diwawancarai sebanyak 808 orang. Metode survei menggunakan stratified multistage random sampling. Adapun data yang dianalisis hanya responden asli sebanyak 697 yang memiliki toleransi kesalahan kurang lebih 3,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sumber: BeritaSatu.Com

Share This: