Politik Tokoh

Pospera Sumsel Siap Berjihad Untuk Jokowi dan Abraham Samad

toniPospera Sumsel Siap Berjihad Untuk Jokowi dan Abraham Samad
Oleh : Riza Tony Siahaan*
Pemililihan Presiden  Indonesia sebentar lagi dilaksanakan. Proses demokratis pemilihan presiden yang lahir dari rahim reformasi ini, menempatkan rakyat sebagai ‘tuan’ dalam memilih pemimpin bangsa ini untuk lima tahun kedepan. Sudah sewajarnya rakyat sebagai ‘tuan’ memilih Presiden yang mampu menjadi ‘pelayan yang  baik’ untuk rakyat.
Dalam iklim demokrasi ini, Pospera (Posko Perjuangan Rakyat) Sumsel, tanpa membedakan latar etnis, agama, bahasa, dan jenis kelamin mengajak ‘tuan-tuan’ untuk terlibat aktif dalam merumuskan arah dan haluan kepemimpinan bangsa kedepan. Pospera Sumsel dengan berbagai pertimbangan menilai Joko Widodo dan Abraham Samad, dapat menjadi ‘palayan yang baik’ rakyat.
Sebagai pelayan yang baik, Jokowi menunjukan kedekatan dan mendengarkan rakyat. Tidak peduli rakyatnya, pemulung, petani kecil, buruh, pedagang, perempuan, atau anak kecil sekalipun, tetap harus didengarkan suaranya oleh pemimpin. Kedekatan pemimpin dengan rakyatlah yang membuat Presiden mampu mendengarkan suara rakyat. Tanpa kedekatan dengan rakyat, seorang Presiden akan memimpin dengan mengesampingkan hak-hak rakyat, dominasi berlebihan Presiden terhadap rakyat akan menjadikan kepemimpinan yang otoriter (kejam).  Tidak hanya itu, Presiden yang jauh dengan rakyatnya akan cenderung bersikap arogan, birokratis, dan represif. Indonesia tidak boleh memiliki Presiden seperti itu.
Dengan corat marut kondisi bangsa saat ini, Indonesia memerlukan Presiden yang tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi, segelintir golongan, atau kelompok tertentu, melainkan pemimpin yang mampu menjadi pelayan seluruh kepentingan rakyatnya. Kepentingan rakyat yang menjadi prioritas utama dan tentu menjadi kemerdekaan bangsa ini  adalah kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tangung jawab Presiden-lah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya, kesejahteraan disini tidak sekedar melewati ambang batas garis kemiskinan yang kerap turun lantaran naiknya harga kebutuhan pokok. Kesejahteraan yang diharapkan, layaknya keluarga yang tidak sekedar memberi makan kepada anaknya, melainkan makanan yang diupayakan kualitas gizinya. Cerminan pemimpin yang mensejahterakan tidak di lihat dari pergulatan wacana semata, melainkan dari serta keputusan dan kebijakan yang pro rakyat, yang diupayakan dengan kerja keras dalam mengurus rakyatnya.
Kepemimpinan yang mensejahterakan tentulah dapat dilakukan pemimpin yang adil dan bersih. Yakni, pemimpin yang menjauhi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kita mengenal istilah clean and good governance, dan untuk mewujudkan itu memang tidak dapat permerintah bekerja sendiri, melainkan diperlukan dukungan swasta dan rakyat. Namun, pemerintah lah yang memiliki tugas mewujudkan iklim kondusif bagi rakyat dan swasta, sekaligus memperkuat posisi rakyat dan swasta sebagai faktor yang penting dalam memajukan bangsa.
Tak ada gading yang tak retak. Pospera Sumsel pun mengajak ‘tuan-tuan’ untuk berketapan ‘memecat’ pemimpin yang dalam perjalannya tidak menunjukan sebagai ‘pelayan yang baik’ untuk rakyat.

* Koordinator Pospera (Posko Perjuangan Rakyat) Sumsel dan Aktivis ’98.

Share This:

Leave a Reply