Berita Hukum KPK Menteri Politik Presiden Terkait Perusahaan Tokoh

Penjelasan Novanto Soal Tuduhan Pencatutan Nama Presiden

Setya Novanto

Jakarta – Ketua DPR Setya Novanto dilaporkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said ke MKD DPR terkait dugaan pencatutan nama Presiden untuk meminta saham ke Freeport. Novanto mengakui pernah bertemu dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, namun membantah mencatut nama presiden.

Dalam wawancara di Jakarta, Selasa (17/11/2015), Novanto buka-bukaan soal pertemuannya dengan Freeport yang berlangsung beberapa kali. Pertemuan itu disebut merupakan inisiatif Freeport.

Ada dua pertemuan yang dijelaskan oleh Novanto. Yang pertama pada tanggal 27 April 2015 serta ada pula tanggal 8 Juni 2015. Dalam pertemuan itu ada permintaan dukungan terkait perpanjangan izin pertambangan Freeport.

Novanto juga membuka tabir soal pengusaha berinisial R yang ikut dalam pertemuan. Pengusaha itu adalah Reza Chalid yang memang diajak Novanto ikut serta.

Politikus Golkar ini menegaskan bahwa dia selalu berhati-hati dalam bertindak. Dia sadar posisinya sebagai pimpinan lembaga negara dan bahwa dia harus menjaga marwah DPR. Novanto juga menjawab soal desakan sejumlah anggota DPR agar dia mundur dari jabatannya.

Novanto juga menyinggung tentang adanya Foreign Corruption Practice Act (FCPA), hukum federal di Amerika Serikat. Menurutnya pula, urusan saham di Amerika Serikat merupakan urusan tingkat tinggi sehingga dia tidak mungkin meminta saham.

Berikut adalah wawancara lengkap dengan Ketua DPR Setya Novanto:

Pertama, Saya belum tahu mengenai yang disampaikan oleh Pak Sudirman Said. Yang saya tahu, sudah disampaikan pada saat MKD. Saya menghargai MKD karena selalu menjalankan sesuai fungsi dan tugasnya secara profesional.

MKD garda terdepan kita. Betul-betul tonggak untuk bisa angkat kewibawaan DPR. Kita harapkan semua yang dilakukan oleh MKD harus bersama-sama mematuhi dengan baik. Kita lihat prosesnya, yang penting substansinya apa.

Yang berkaitan substansi yang selalu ditanyakan, masalah membawa nama presiden dan wakil presiden, saya perlu jelaskan bahwa Presiden dan Wakil Presiden adalah simbol negara, kita harus hormati dan jaga, kita lindungi supaya marwah Presiden dan Wakil Presiden punya marwah yang baik.

Khusus berkaitan dengan Freeport, Presiden dan Wakil Presiden yang saya ketahui beliau sangat perhatian khususnya yang berkaitan dengan masalah satu soal investasi, kedua berkaitan dengan smelter, ketiga soal CSR, dan berkaitan dengan apa-apa yang diharapkan oleh masyarakat khususnya yang ada di papua.

Untuk memakai nama Presiden, saya meyakini bahwa saya tidak pernah pakai nama Presiden karena saya berhubungan selama ini secara baik, sesuai tugas masing-masing dan selalu menjaga martabat kedua belah pihak.

Yang disampaikan soal masalah Freeport, yang saya ingat adalah memang CEO dari Freeport pernah datang ke tempat saya, selama kurang lebih dua jam, sampaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan program-program Freeport. Pengembangan Freeport, mengenai hal-hal apa yang sudah dilakukan Freeport dan beri buku-buku tentang Freeport dan meminta tolong dan dukungan perpanjangan izin pertambangan Freeport Indonesia dapat diperpanjang.

Pertemuan itu di bulan juni seperti yang dikatakan Sudirman?

Itu 27 April jam 2 di kantor kami. Tentu karena ini, saya sampaikan ini merupakan wewenang eksekutif, presiden, kami akan sampaikan apa-apa yang diharapkan oleh Freeport.

Setelah pertemuan 27 April ada pertemuan lagi?

Ya ada.

Inisiatif dari mereka?

Iya. Ada penjelasan dari sana. Mereka menjelaskan berapa tenaga kerja, bagaimana komposisi, kontribusi ke pemerintah. Tapi tentu saya sudah mulai hati-hati dalam menyampaikan kepada beliau. Saya melihat ada beberapa hal yang saya sangat hati-hati. Baru terakhir ada pertemuan lagi. Tanggal 8 Juni  di Ritz Carlton jam 4.

Pertama-tama, saya sudah ada feeling bahwa saya harus hati-hati. Saya disarankan teman saya untuk bisa lihat ini dengan jernih. Dari semua hal-hal yang disampaikan kepada saya selalu sampaikan hal-hal positif. Bahwa keinginan pemerintah, smelter itu yang tadinya pemerintah setuju di Papua sudah setuju di Gresik.

Dari CEO itu yang lebih banyak cerita. Saya hanya satu dua kali menyampaikan. Substansinya bahwa kita ingin ketahui masalah juga terhadap pribadi-pribadi dari CEO ini. Masalah perusahaan asing itu. Apalagi ini perusahaan Freeport, multinasional, harus ekstra hati-hati, dari sisi mana yang mana pemerintah bisa bantu karena akhirnya DPR yang menyetujui

Masalah permintaan saham, saya sudah sampaikan. Saya tahu ada kode etik antara Indonesia dengan perusahaan Amerika Serikat di seluruh dunia. Perusahaan di seluruh dunia khususnya Amerika, harus perhatikan Foreign Corruption Practice Act, FCPA. Kalau hal-hal yang berkaitan apakah sifatnya pembelian saham, menyangkut perusahaan itu, ada di dalam situ. Bahkan segala baik yang dikeluarkan, harus dipertanggungjawabkan secara clear. Apalagi saham, itu proses yang besar dan tinggi. Harus dikontrol stock exchange di New York, tidak mungkin saya meminta saham. Sesuatu yang tidak mungkin.

Kita menilai pada waktu itu kita harus hati-hati. Jangan sampai ada masalah-masalah. Tunggu apa yang jadi putusan pemerintah. Ada awal dan akhir yang sangat panjang.

Saya cukup prihatin dengan isu-isu yang berkembang bahwa saya mencatut nama presiden dan wapres lalu minta saham, saya harus jaga nama baik dan reputasi saya sebagai ketua DPR. Ketua DPR harus hati-hati dalam jalankan tugas seperti ini, jaga marwah DPR

Pertemuan di Ritz Carlton dengan CEO Freeport, apa benar ada pengusaha yang ikut? Reza Chalid?

Saya memang ajak karena Pak Reza punya pemikiran sangat curiga kepada CEO yang begitu intens, pada keinginan CEO itu. Karena itu pertemuan hal biasa, bukan serius. Pengusaha ini, dia mempunyai, yang saya diminta hati-hati karena sudah mulai ada rasa. Yang jangan sampai merugikan. Kehati-hatian ini membuat saya jadi lebih berhati-hati dalam mengadakan pembicaraan. Pengusaha ini ingin……tanya saja ke pengusaha ini. dia punya tendensi tidak percaya ke CEO-nya. Santai tapi penuh kecurigaan yang sangat tinggi.

Pembicaraan soal jet pribadi dan happy-happy itu benar?

Itu guyonan orang yang antara pengusaha dan pengusaha. Mereka berusaha becanda. Yang tidak serius, tapi memang ingin melihat seberapa jauh namanya pengusaha, melihat bagaimana sifat orang ini apa bisa dipercaya. Ingin mengetahui lebih jauh.

Yang membawa-bawa nama Pak Luhut, benar?

Menurut pendapat saya, dia cuma berusaha menanyakan. Memberikan suatu joke-joke pada masalah itu. Memberikan fooding-fooding, ingin memancing ke CEO tersebut.

Bapak juga sempat menyebut nama Pak Luhut di perbincangan itu?

Tanya langsung ke pengusahanya. Yg jelas si pengusaha ini sangat mencurigai.

Terbukti ya kecurigaannya, sampai direkam?

Saya tidak tahu direkam atau tidak. Saya merasa bahwa itu nanti silakan saja dari pihak Freeport, perusahaan Amerika menilai apakah diizinkan untuk melakukan hal-hal demikian.

Dari anggota muncul suara yang meminta bapak mundur dan kocok ulang pimpinan?

Saya kembalikan kepercayaan pada anggota yang menilai. Saya hanya ingin bekerja dengan baik untuk jaga marwah dan wibawa DPR. Dan tentu saya dapat merasakan di situasi politik ada pro dan kontra. Silakan menilai masing-masing. Tujuan saya, ini untuk kepentingan bangsa dan negara.  Saya mewakili rakyat dan saya harus jaga marwah kepentingan rakyat. Tentu saya harus hati-hati

Dengan Reza Chalid sudah kenal lama?

Yang jelas saya ajak karena ada dasar yang sudah mulai tidak percaya dengan saat ketemu. Sangat hati-hati hadapi ini. Nanti tanyakan langsung ke yang bersangkutan.

Penegasan, ini bapak diminta mundur. Bapak apakah akan menunggu proses MKD atau bagaimana?

Itu semua saya percayakan ke prosedur yang jelas, ke mekanisme yag benar. Saya selalu ikuti aturan yang ada. Saya cukup bersabar. Ini harus tabah lah.
Kita tidak tahu, dari substansinya saya tidak melakukan apa-apa. Secara medianya sangat besar sekali.

Kalau selanjutnya ada wacana ini dibawa ke pidana?

Lihat perkembangannya. Tentu pihak yang lain akan selalu memantau dan melihat sisi ini secara baik. Dari sisi saya, Alhamdulillah saya tidak berbuat apa yang disampaikan oleh media-media yang menyudutkan saya. Mudah-mudahan mereka bisa memahami mana yang benar mana yang tidak. Saya menyadari bahwa selaku ketua DPR harus hati-hati menghadapi masalah ini

Saya nyatakan bahwa saya tidak pernah mencatut nama presiden dan wakil presiden. Tapi saya pastikan bahwa saya bicarakan masalah ini dengan presiden di mana presiden juga menjelaskan bahwa apapun yang menyangkut Freeport harus sesuai dengan undang-undang dan digunakan untuk kepentingan bangsa dan khususnya masyarakat Papua

Share This: