Berita Hukum Korupsi KPK Palembang Sumatera Selatan

Pengakuan Masyito dalam Sidang Pemeriksaan Terdakwa

Jakarta – Setelah didesak oleh Jaksa Penuntut Umum KPK mengapa dirinya beberapa waktu lalu dan Romi Herton memberikan pernyataan palsu saat menjadi saksi ketika sidang dengan terdakwa Akil Mochtar. Diungkapkan Masyito, jika pengakuan palsu tersebut nekad Dia lakukan karena takut dijadikan tersangka. Apalagi ketika itu Dia diajak Muhtar Ependy untuk menyamakan suara.
“Dia (Muhtar Ependy) ajak saya menyamakan suara, bahwa Ayu tidak mengenal saya, Ayu tidak pesan atribut kampanye. Kalau ditanya Bank Kalbar, Ayu bilang saja tidak pernah ke Bank Kalbar,” ujar Masyito saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (2/2/2015)
Diceritakannya, saat itu juga Muhtar menakuti dirinya dengan mengatakan dia akan menjadi tersangka bila memberi keterangan yang tidak sesuai arahan Muhtar. “Dia bilang kalau saya menyatakan sesungguhnya saya akan jadi tersangka,” ucapnya
Ancaman status tersangka ini, membuat Masyito tak berdaya. “Ya sudah ikuti saja apa maunya Pak Muhtar,” tuturnya.
Sebelum hadir pada persidangan 27 Maret 2014, Muhtar kembali menghubungi Masyito agar keterangannya tidak berbelok dari arahan sebelumnya.
“Sebelum saya bersaksi di persidangan, Muhtar telepon dia bilang Ayu tetap konsisten saja dan bahkan ketika saya ditetapkan sebagai tersangka, istri Muhtar 2 kali telepon, minta saya harus konsisten. Tapi itusaya tidak ikuti lagi karena sudah jadi tersangka,” paparnya.
Masyito mengakui keterangan saat dirinya bersaksi pada persidangan Akil hanya keterangan palsu soal tidak mengenal Muhtar, tidak pernah memesan atribut kampanye dan tidak pernah ke kantor BPD Kalbar. “Faktanya semua itu (terjadi) seperti apa yang saya sampaikan tadi,” ujarnya.
Namun demikian, Romi Herton menolak jika dikatakan bersaksi palsu saat itu. “Saya tidak merasa memberikan keterangan palsu, karena memang saya tidak kenal dengan Muhtat Ependy,” tegasnya

Berikut Hasil Kesaksian dan Pengakuan Masyito dalam Sidang Pemeriksaan Terdakwa

11 April 2013

Romi Herton – Harnojoyo dinyatakan Kalah dalam PILKADA Palembang

12 April 2013

Muhtar Ependy Menelpon Masyito menanyakan kebenaran pasangan Romi Herton – Hornojoyo dinyatakan Kalah

26 April 2013

Dilakukan pertemuan Romi, Masyito dan Muhtar Ependy di Hotel Beleza Jakarta membicarakan perkara sengketa Pilkada Palembang yang telah didaftarkan ke MK. Masyito Menyerahkan kepada ependy fotocopy C1 hasil rekapitulasi surat suara Pilkada Palembang tahun 2013.

7 Mei 2013

Muhtar menelpon Masyito menceritakan proses persidangan perkara Pilkada Palembang di MK

8 Mei 2013

Muhtar Mulai meyakinkan Masyito bahwa ia bisa mengurus Perkara Pilkada Palembang di MK. Istri Muhtar Ependy menyakinkan Masyito dengan menunjukan foto akrab suaminya bersama Akil Muhtar diruang kerja Ketua MK dengan mengirimkan gambar itu melalui pesan BBM ke Hp Masyito.

9 Mei 2013

Muhtar menelpon Masyito dan membicarakan permintaan uang suap sebesar Rp 10 Miliar untuk memenangkan gugatan Romi Herton – Harnojoyo.

10 Mei 2013

Masyito menyepakati nilai suap senilai Rp 7 Miliar sumber dana dari menjual SPBU Romi di Jalan Sukarno Hatta di Palembang. Uang Miliaran dalam bentuk tunai diatar oleh Sekda Pemkot Palembang Ucok Hidayat menggunakan jalur Pesawat Udara ke Apartemen Romi dan Masyito, GRAN MELIA di Jakarta

13 Mei 2013

Masyito mengakui pengantaran uang suap sebesar Rp 11 Miliar dan US$ 316.000 bersama Muhtar Ependy di BPD Kalbar Cabang Jakarta Mangga Dua.

20 Mei 2013

Putusan Perkara Pilkada Palembang diputuskan Hakim Panel yang diketuai Akil Muhtar yang memenangkan Pasangan Romi Herton – Harnojoyo dengan Keunggulan 23 Suara dari Pasangan Sarimuda – Nelly Rosdiana.

Masyito

Share This: