Hukum Tokoh

Kesaksian Ratna Mutiara untuk Kasus Bambang KPK

Jakarta – Nama Ratna Mutiara menjadi buah bibir sepanjang pekan ini. Ia menjadi saksi kunci dalam kasus sengketa pemilihan bupati Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada 2010. Kasus ini belakangan menjerat Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto. Bambang ditetapkan menjadi tersangka oleh Badan Reserse Kriminal Polri dengan sangkaan mengarahkan saksi untuk memberi kesaksian palsu di sidang Mahkamah.
Pada pemilihan bupati Kotawaringin Barat 2010 ada dua calon pasangan yang bertarung, yakni Ujang Iskandar-Bambang Purwanto dan Sugianto Sabran-Eko Soemarno. Dalam persaingan itu, Ujang-Bambang hanya meraih 55 ribu suara, dan Sugianto-Eko menyabet 67 ribu dukungan. Kubu Ujang lantas menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Ujang menggandeng Bambang Widjojanto dan tim kuasa hukum dari Widjojanto, Sonhadji, & Associates, untuk menghadapi Sugianto di MK.
Ratna adalah 1 dari 68 saksi yang dihadirkan dari Kecamatan Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat. Ratna bersedia menjadi saksi karena memang mengetahui adanya politik uang yang diduga dilakukan oleh kubu Sugianto-Eko selama kampanye Kabupaten Kotawaringin Barat. Setiap warga, menurut Ratna, mendapat uang masing-masing Rp 150 ribu per orang, bahkan ada yang mendapat hingga Rp 600 ribu untuk satu rumah. Sugianto-Eko akhirnya gagal menjadi bupati.
Apa sebenarnya yang terjadi saat kampanye pemilihan Bupati di Kotawaringin Barat? berikut wawancara khusus Tempo dengan Ratna di sebuah tempat di Pangkalan Banteng, pekan lalu.
Bagian lain dari kutipan wawancara ini juga dapat dibaca di sini Petikan wawancara ini dapat dibaca juga di sini: EKSKLUSIF Wawancara Ratna, Saksi Bambang KPK (II), di sini: EKSKLUSIF Wawancara Ratna, Saksi Bambang KPK (III), dan di sini: EKSKLUSIF: Wawancara Ratna, Saksi Bambang KPK (IV).
Bagaimana awalnya Anda diminta untuk bersaksi?
Waktu itu saya ada di Masjid Agung, Pangkalan Bun. Ada telepon, “Bu, mau jadi saksi enggak untuk desa sendiri?” Jadi tiap satu kecamatan ada 12 orang saksi, bukan hanya saya sendiri. Jadi ada saksi dari Desa Dua, Desa Delapan, Desa Empat, Amin Jaya. Jadi bukan saya sendiri. Semuanya ada 68 saksi, tiap kecamatan ada saksi. Satu orang masing-masing desa.
Apa reaksi saat pertama kali Anda diminta menjadi saksi?
Apa yang kami lihat, rasakan, dan dengar, dari teman-teman kami tahu kalau di sini memang ada terjadi bagi-bagi uang. Cuma kesalahannya saya hingga jadi begini. Kesalahan saya waktu itu, saya kesebut nama Eko. Saya tahu Eko tidak datang. Saya tahu semua temen sudah oke mau bersaksi, tapi mereka enggak mengaku. Waktu di Jakarta mereka ngedrop, enggak mengaku.
Apa yang terjadi setelah Anda bersaksi?
Sehabis kejadian itu saya ditarik karena dianggap bersaksi palsu. Saya dibawa ke Pondok Bambu (rumah tahanan perempuan di Jakarta Timur), lalu ke Mabes Polri. Di Jakarta saya lima bulan ikut bersidang, sampai tebal berkasnya. Diambil saksinya 23 total sama KPU dibawa untuk menjatuhkan saya. Kalau bisa saya mencabut kesaksian karena beralasan saya hanya mendengar.
Apakah Anda ada bertemu dengan salah satu calon pasangan?
Waktu sidang saya bertemu Eko Sumarno. Dia bilang, saya sarjana hukum, ahli hukum, sudah pengalaman di bidang hukum. Saya cuma bilang, itu hukum Allah atau Hukum Manusia. Saya pakai hukum Allah, kamu pakai hukum manusia. Kalau memang saya salah saya terima, mau dipenjara 20 tahun, penjara seumur hidup saya terima. Kalau Allah berkehendak nanti kita buktikan.
Tidak ada warga dan saksi yang membela Anda?
Dalam sidang ada saksi 16 orang. Orang sini tidak ada satu orang pun yang mau menjadi saksi yang membela saya. Begitu saya pulang, saya tidak terbukti bersaksi palsu. Tapi lima bulan saya di sana. Sedangkan di sini ada yang meninggal tiap hari. Makanya ada kejadian ini mau berapa orang lagi yang mati? Karena mereka bersaksi palsu, toh. Jangan sembarangan, kita disumpah pakai kitab. Mau mereka Islam, Kristen disumpah pakai kitab suci.
Pada pemilihan bupati Kotawaringin Barat 2010 ada dua calon pasangan yang bertarung, yakni Ujang Iskandar-Bambang Purwanto dan Sugianto Sabran-Eko Soemarno. Dalam persaingan itu, Ujang-Bambang hanya meraih 55 ribu suara, dan Sugianto-Eko menyabet 67 ribu dukungan. Kubu Ujang lantas menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Ujang menggandeng Bambang Widjojanto dan tim kuasa hukum dari Widjojanto, Sonhadji, & Associates, untuk menghadapi Sugianto di MK.
Ratna adalah 1 dari 68 saksi yang dihadirkan dari Kecamatan Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat. Ratna bersedia menjadi saksi karena memang mengetahui adanya politik uang yang diduga dilakukan oleh kubu Sugianto-Eko selama kampanye Kabupaten Kotawaringin Barat. Setiap warga, menurut Ratna, mendapat uang masing-masing Rp 150 ribu per orang, bahkan ada yang mendapat hingga Rp 600 ribu untuk satu rumah. Sugianto-Eko akhirnya gagal menjadi bupati. (Baca: Saksi Ungkap Peran Bambang KPK di Kasus Pilkada Kotawaringin)
Apa sebenarnya yang terjadi saat kampanye pemilihan Bupati di Kotawaringin Barat? berikut wawancara khusus Tempo dengan Ratna di sebuah tempat di Pangkalan Banteng, pekan lalu.
Bagaimana posisi Ibu saat di Mahkamah Konstitusi?
Saya di MK menjadi saksi untuk Pak Ujang. Tapi saya bilang di sana, saya tidak melihat Pak Ujang, tak melihat Pak Bambang Purwanto. Kalau mereka kedudukan tinggi, saya bela mati-matian belum tentu mereka membela saya. Di MK, saya dibilang seperti semut melawan gajah. Tapi saya bilang kalau Tuhan berkehendak di lubang cacing saya bahagia, ya, saya tetap bahagia.
Kenapa Ibu mau jadi saksi Pak Ujang?
Memang di sini kejadiannya seperti itu. Bagi-bagi uang itu rata. Jadi setiap RT ada dua orang bawa kresek. Setiap orang dapat Rp 150 ribu. Teman saya sendiri sama-sama mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran ada yang satu rumah dapat Rp 600 ribu. Masak dia bohong. Yang bagi-bagi itu Pak Sugianto.
Ibu kebagian duit itu?
Ya enggaklah. Saya kan berhubungan seperti ini gak mungkin. Gak berani saya main-main sama kitab.
Bagaimana cerita ibu bisa dituduh memberi kesaksian palsu?
Satu, saya kan tokoh masyarakat. Jadi beberapa tokoh masyarakat dibawa, termasuk pendeta dua orang namanya Dedi sama Abraham. Waktu itu mereka juga dianggap kasih kesaksian palsu, termasuk saya. Cuma mereka dibawa ke Pangkalan Bun. Kalau saya karena lurah, saya keseret. Yang melaporkan mereka cuma lewat desa saya. Kalau dari desa lain tak ada yang melapor.
Jadi ibu saja yang dicokok?
Iya. Saya dilaporkan Pak Ngadiyo. Saya kenal dia, saat hajatan Pak Ngadiyo saya diundang. Kalau dalam kasus ini Pak Ngadiyo sudah ada yang menekan. Dia kan tim Pak Sugianto.
Bagaimana kronologi waktu Ibu dibawa ke Jakarta?
Saya diambil lalu disuruh menceritakan apa yang ada. Saya tak diapa-apakan, saya tidak diborgol. Karena masalah di Jakarta saya dibawa ke Jakarta. Pengacara yang disiapkan di sini tak tahu saya dibawa. Tiba-tiba saya diberi tahu besok sekitar jam 8-9 naik pesawat. Tahu-tahu jam 6 saya sudah berangkat. Itu tahun 2010.
Sampai di Jakarta apa yang terjadi?
Saya tadinya dibawa ke Mabes, dipindahin ke Pondok Bambu. Ada Eko Sumarno di sana. Eko bilang, “Kalau sampeyan bisa menghapus kata-kata di MK nanti keluarganya dicukupi.” Saya diminta mencabut laporan kesaksian. Saya tidak mau. Kalau saya palsu ngapain harus dicabut? Saya bilang kalau ini urusan saya sama Tuhan biarlah sampai busuk saya di penjara, tapi lihat sendiri nanti siapa yang benar dan salah.
Bergulirnya kasus penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat Ratna Mutiara mengenang kembali kasus sengketa pilkada Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang membuat dirinya dipenjara. Ratna menjadi saksi bagi pasangan Ujang Iskandar-Bambang Purwanto saat persidangan digelar di Mahkamah Konstitusi pada 2010.
Dalam persidangan ketika itu, Ratna dituduh memberikan keterangan palsu dan divonis penjara lima bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kepada Tempo, Ratna mengungkapkan dirinya tak pernah memberi kesaksian palsu. Dalam persidangan, ia menceritakan adanya bagi-bagi uang oleh pasangan Sugianto Sabran-Eko Soemarno, pesaing Ujang-Eko, dalam sebuah pertemuan warga.
Apa sebenarnya yang terjadi saat kampanye pemilihan Bupati di Kotawaringin Barat? Berikut wawancara khusus Tempo dengan Ratna di sebuah tempat di Pangkalan Banteng, pekan lalu.

Sumber: TEMPO

Share This: