Hukum Politik

Jokowi-JK Lebih Banyak Diserang Kampanye Hitam di Media Sosial

jokowi-prabowo

Siar Indonesia, Lembaga survei PoliticaWave menganalisis percakapan politik di media sosial mengenai kampanye hitam yang dialamatkan ke kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Dalam hasil pantauannya, PoliticaView menganggap pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla paling banyak diterpa kampanye hitam di media sosial.

“Jokowi-JK merupakan pasangan yang paling banyak diserang oleh kampanye hitam, dengan persentase 74,5 persen serangan kampanye hitam dan 25,5 persen kampanye negatif,” tutur pendiri PoliticaWave, Yose Rizal dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (7/7/2014).

Yose mengatakan, kampanye hitam yang menyerang pasangan Jokowi-JK antara lain tuduhan membuat surat penangguhan ke kejaksaan, capres boneka, serta akan menghapus sertifikasi guru dan akan menghapus raskin. Ada pula tudingan yang berbau SARA seperti tuduhan beragama Kristen dan keturunan tionghoa, tuduhan komunis, tidak bisa shalat, wudhu dan mengaji, serta didukung yahudi atau zionis.

Sedangkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dianggap lebih banyak mendapat kampanye negatif dengan persentase sebesar 83,5 persen. Ada pun kampanye hitam yang dialamatkan kepada mereka hanya sebesar 16,5 persen.

Berdasarkan pantauan PoliticaView, bentuk kampanye hitam terhadap Prabowo-Hatta seluruhnya dialamatkan kepada Prabowo. Tudingan tersebut antara lain memiliki dua kewarganegaraan, tuduhan psikopat, video pemukulan di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan transaksi saham palsu.

Dalam siaran persnya, Yose mengaku prihatin atas pelaksanaan pemilu yang diwarnai kampanye hitam dan kampanye negatif. Menurut Yose, pemilu telah dinodai oleh pihak yang menempatkan kepentingannya di atas kerukunan dan stabilitas bangsa. “Ini adalah fakta yang sangat menyedihkan dalam pesta demokrasi di Indonesia. Para pembuat dan penyebar kampanye hitam harus dihukum secara tegas,” ujarnya.

Pantauan PoliticaView mengenai kampanye hitam dilakukan selama periode Mei-Juni 2014 dengan hasil sebanyak 458.678 percakapan. Pemantauan dilakukan pada enam media sosial yaitu Twitter, Facebook, Blog, Forum, Online News dan Youtube. Setiap percakapan terkait pasangan capres dan cawapres di media-media tersebut dicapture, dikelompokkan dan dianalisa oleh platform PoliticaWave.

Share This: