Berita Nasional Teknologi

Fakta Tentang Penemuan Ekor Pesawat AirAsia QZ8501

Tim SAR berhasil menemukan bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan sudah hampir melampaui minggu kedua sejak kejadian hilangnya kontak dengan pesawat AirAsia QZ8501 tersebut pada 28 Desember 2014 lalu. Ekor itu merupakan bagian penting yang paling dicari, karena di sanalah black box tersimpan. Ekor itu ditemukan di hari ke-11 operasi SAR yang tak kenal lelah.

Sabtu sekitar pukul 06.00 WIB, pengangkatan ekor pesawat diawali dengan penyelaman untuk memeriksa tali pengikat di ekor pesawat, pemasangan dan pengisian udara pada lifting bag/ballon (balon pengapung), Sampai dengan pukul 10.12 WIB, pengisian udara sebanyak enam tabung

Setelah titik ekor pesawat ditemukan, Tim SAR masih harus memastikan ada tidaknya kotak hitam itu dengan mengirim sejumlah penyelam ke kedalaman 34 meter di dasar laut. Nantinya bagian ekor yang berat itu diangkat dengan alat khusus yaitu lifting bag.

Pada Hari ini Sabtu, 10 Januari 2015 Setelah dilakukan enam kali penyelaman oleh TIM SAR, baru pada pukul 11.50 WIB, lifting bag muncul ke permukaan dan bangkai ekor pesawat turut terangkat ke permukaan laut. Setelah muncul ke permukaan, tim menggunakan talo kros kapal untuk membantu penarikan.

skenario yang disiapkan untuk tahap berikutnya, yakni merapatkan ekor pesawat dan lifting bag ke sisi kapal SKK Migas, Crest Onyx untuk selanjutnya dibawa ke tepi Pangkalan Bun.

Ekor pesawat AirAsia QZ8501 menjadi benda paling dicari karena didalamnya terdapat kotak hitam atau black box berisi data penerbangan pesawat tersebut sebelum jatuh di Selat Karimata pada 28 Desember 2014 lalu. Hari itu, pesawat dari maskapai penerbangan Malaysia itu mengangkut 162 orang dengan rute Surabaya-Singapura.

Hasil pemeriksaan tim penyelam sebelumnya, diketui black box sudah tidak ada di ekor pesawat tersebut. Diperkirakan black box sudah terlepas atau terlempar dari ekor pesawat karena benturan keras saat pesawat terjatuh.

Fungsi Blackbox
Salah satu investigator KNKT, Bahar Ilyas, mengatakan, semua spesifikasi kotak hitam setiap pesawat sama. Bahkan kotak rahasia yang digunakan pesawat zaman sekarang memiliki lebih banyak kelebihan dalam merekam seluruh aktivitas dalam mode transportasi udara itu.

“Dulu black box hanya merekam beberapa macam data. Sekarang sudah tambah, banyak data yang direkam,” katanya.

Salah satu ahli pembaca kotak hitam yang enggan disebutkan namanya itu mengakui, mereka hanya tiga orang satu tim sebagai ahli untuk membaca kotak hitam. Mereka masing-masing bertugas untuk membaca flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR).

Sementara itu, pada kotak hitam itu terdapat Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat navigasi darurat dan underwater locator beacon (ULB), benda ini berukuran 100 cm yang menempel pada kotak hitam. ULB ini sebagai alat yang memancarkan sinyal darurat.

“Untuk menangkap sinyal ULB ini harus berada 200 meter dari posisi letaknya. Alat ini hanya bisa memancarkan sinyal selama 30 hari

ekor-pesawat-airasia-qz8501
Berikut beberapa fakta tentang penemuan bagian ekor QZ8501:

1. Ditemukan Setelah 4 Kali Penyelaman

Dengan kegigihan dari tim evakuasi termasuk tim penyelam, ekor AirAsia QZ8501 ditemukan di perairan Laut Jawa dengan koordinat 03 36 31 S – 109 41 66 T. Titik lokasi bagian ekor awalnya ditemukan oleh kapal GeoSurvey pukul 05.00 pagi, Rabu (7/1/2015) di hari ke-11 pencarian. Dimensinya panjang 10 meter lebar 5 meter dan tinggi 3 meter.

Kapal GeoSurvey lalu melaporkan temuan itu dan Basarnas menindaklanjuti dengan mengirim tim penyelam. Tim penyelam masuk ke kedalaman sebanyak 4 kali. Pada awalnya, penyelam hanya menemukan bangkai kapal dan logam yang ditumbuhi tiram. Dalam penyelaman berikutnya, dua penyelam menemukan bagian pesawat yang 99% dipastikan merupakan ekor AirAsia QZ8501.

Komandan SAR Laut Laksma TNI Abdul Rasyid K menceritakan, pada pukul 10.20 tim penyelam standby di permukaan di titik yang sudah ditentukan. Kemudian pukul 10.30, dua penyelam yakni Serma Marinir Boflen Sirait dan Serka Marinir Oo Sudarna, masuk ke kedalaman 30 meter.

Selama 17 menit penyelaman, bagian ekor pesawat akhirnya ditemukan tim penyelam. Pukul 10.47 tim penyelam kembali ke permukaan.

“Waktu menyelam cuma 17 menit. Saking semangatnya, dari dua tabung satu tabung habis, tapi sesuai prosedur,” kata Laksma TNI Abdul Rasyid di KRI Banda Aceh, Rabu (7/1/2015).

2. Ekor Terbalik dan Terendam Lumpur

Ekor pesawat AirAsia QZ8501 ditemukan di kedalaman 34 meter di dasar laut. Ekor pesawat nahas itu ditemukan dalam kondisi terbalik dan terbenam di dalam lumpur.

“Bagian ekor ini pada kondisi terbalik, tertanam di lumpur,” kata Deputi Operasi Basarnas Marsekal Pertama SB Supriyadi di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (7/1/2015).

Dari temuan itu, Supriyadi menduga pesawat jatuh dalam kondisi terbalik. “Jatuh dalam kondisi terbalik, inverted,” ujarnya sambil membuat gerakan telapak tangan menghadap ke atas.

Supriyadi mengatakan sebagian ekor terendam dalam lumpur, kemungkinan begitu juga dengan black box yang ada di bagian ekor. Basarnas akan mencari cara untuk mengangkat black box dengan kondisi ekor yang terbalik.

“Posisi black box sendiri harus diangkut untuk menyiasati dalam keadaan terbalik”.

3. Diangkat Pakai Alat Canggih

TNI Angkatan Laut (AL) mendatangkan lifting bag guna mengangkat ekor pesawat AirAsia QZ8501 yang telah ditemukan. Alat tersebut mampu mengangkat objek seberat 110 ton dari dasar laut.

“Kami bawa lifting bag kapasitas total 110 ton. Masing-masing adalah lifting bag kapasitas 35 ton sebanyak 2 buah, kapasitas 10 ton sebanyak 3, dan kapasitas 5 ton sebanyak 2,” ujar Kepala Tim Penyelam Kapten Saiful Apriyanto di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Kamis (8/1/2015)300 M dari Ekor .

Alat-alat tersebut diterbangkan dari Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur dengan pesawat Uniform 617 milik TNI AL. Setelah itu diterbangkan ke titik ditemukannya ekor AirAsia QZ8501 atau ke KRI Banda Aceh.

“Alat ini pernah digunakan untuk mengangkat tank yang tenggelam seberat 15 ton, lalu kapal laut tenggelam. Kalau menggunakan alat ini, risikonya tidak ada,” imbuh Saiful.

Dia menambahkan bahwa nantinya crane juga tetap digunakan di lokasi. Crane akan dipakai untuk menarik objek bila sudah naik ke permukaan air.

“Nantinya kita ikatkan ke kapal agar tidak terbawa arus. Kendala kami tetap sama nantinya, yaitu faktor cuaca,” ucap Saiful.

Tim penyelam masih berusaha mengangkat ekor dengan cara mengikat tali dan membawa floating bag atau balon besar. Rencananya, ekor diangkat dari dasar laut, lalu dibersihkan dari lumpur di bawah permukaan laut. Selain black box, penyelam juga memprioritaskan untuk memastikan ada tidaknya jenazah di bagian ekor pesawat tersebut.

4. Ada Sinyal Ping 300 Meter dari Ekor

Berdasarkan pengamatan visual, ekor AirAsia QZ8501 terendam lumpur di dasar laut. Black box tak terlihat di sana. Di sisi lain, ada sinyal ‘ping’ yang diterima kapal KN Jadayat.

“KN Jadayat menerima sinyal ping yang diperkirakan jaraknya 300 meter dari titik pertama,” kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko di KRI Banda Aceh, Jumat (9/1/2015).

Titik pertama yang dimaksud adalah lokasi ditemukannya ekor dan bagian-bagian pesawat. Untuk memastikan sinyal itu, kata Moeldoko, 7 penyelam dikerahkan.

“Sedang kita kejar dan kirim penyelam ke arah ping,” tandasnya.

Moeldoko memimpin langsung pencarian black box sejak Kamis kemarin. Ia menginap di KRI Banda Aceh untuk memberi spirit kepada penyelam. Hari ini, penyelam berhasil masuk ke kedalaman laut untuk memastikan ada tidaknya black box di bagian ekor pesawat nahas tersebut.

Share This: