Berita Politik

Demokrasi Indonesia Dalam Bahaya

PrabowoFBSiar Indonesia, Edward Aspinall berpendapat, dunia luar sudah seharusnya khawatir terhadap kemungkinan Prabowo Subianto menjadi presiden Indonesia berikutnya, tetapi yang paling dirugikan kalau dia dipilih sebenarnya adalah rakyat Indonesia.

Baca Juga Versi Bahasa Inggris Indonesia’s democracy is in danger

Pemilihan Umum Presiden pada 9 Juli 2014 tidak hanya menentukan pemerintah pengganti Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi juga menentukan takdir demokrasi Indonesia. Selama limabelas tahun terakhir, Indonesia telah menorehkan kisah sukses demokrasi di Asia Tenggara. Berbeda dengan Thailand yang kembali dalam tradisi lama, di dalam cengkeraman militer setelah sukses melakukan kudeta, atau Malaysia dan Singapura yang tetap berada dalam kondisi semi demokratik, demokrasi di Indonesia tampaknya semakin terkonsolidasi. Walaupun tidak ada pengamat yang mengatakan Indonesia tidak mengalami masalah yang serius dalam politik – yang paling utama adalah korupsi yang berurat-berakar – tetapi banyak kemajuan yang telah dicapai, misalnya evolusi kebebasan pers, berakhirnya dwi fungsi ABRI, tradisi pemilu yang jujur dan adil serta desentralisasi kewenangan dan keuangan ke daerah.

Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan besar yang tidak hanya berkaitan dengan kwalitas demokrasinya, tetapi lebih serius dari itu, dapat menentukan apakah demokrasi itu akan dapat bertahan. Kedua calon presiden berasal dari tradisi politik yang bertolak belakang dalam sejarah modern politik Indonesia, keduanya berjanji membawa Indonesia ke arah yang sama sekali berlawanan.

Dua Pilihan
Kandidat yang memimpin survey pendapat publik saat ini adalah Joko Widodo yang lebih dikenal sebagai Jokowi. Jokowi adalah produk murni dari era demokratis. Dia sama sekali tidak berperan di kancah politik sebelum masa reformasi, dan menapak karir sangat cepat sebagai politisi setelah dua kali menjadi Walikota Solo dan sebagai Gubernur Jakarta – sebuah karier politik nasional yang tidak mungkin bisa dicapai pada masa otoritarian. Dikenal sebagai pribadi yang sederhana, merakyat dan berasal dari lingkungan yang juga sederhana, Jokowi menunjukkan prestasi di industri ekspor furnitur yang mengantarkannya memasuki dunia politik. Gaya kepemimpinan Jokowi memberi perhatian kepada reformasi birokrasi, peningkatan pelayanan publik, kesejahteraan sosial dan penyelesaian konflik yang didasarkan melalui proses dialog.

Walaupun sulit menduga kebijakan Jokowi pada beberapa isu-isu krusial (misalnya penyelesaian konflik di Papua), dia akan menjadi presiden Indonesia pertama yang sama sekali tidak terlibat langsung dalam politik praktis selama pemerintahan otoriter, dan sampai sejauh ini, presiden yang paling reformis. Walaupun pemerintahan Jokowi kemungkinan tidak akan membawa perubahan yang dramatis, paling tidak Jokowi akan memberi perhatian yang serius kepada penguatan institusi-institusi demokratis serta menjamin semakin bergulirnya roda birokrasi menjadi lancar dan bersih.

Prabowo Subianto, lawan Jokowi satu-satunya, berjanji akan menghormati proses demokrasi Indonesia. Tetapi, berkaca dari sejarah pribadi Prabowo, retorikanya dan gaya kepemimpinannya selama ini, pemerintahan Prabowo memiliki potensi besar untuk mengembalikan Indonesia ke arah pemerintahan otoritarian. Family-portraitBerbanding terbalik dengan Jokowi, Prabowo adalah produk murni dari otoritarianisme Orde Baru Presiden Suharto (1966-1998). Prabowo adalah satu dari sedikit jenderal paling senior pada masa berakhirnya Suharto, anak arsitek ekonomi pada masa awal Orde Baru dan menikah dengan anak keempat Suharto,
Titiek Suharto. Adik Prabowo, Hasyim Djojohadikusumo, seperti kebanyakan putra-putri penguasa Orde Baru lainnya, menekuni dunia bisnis, sementara Prabowo disiapkan untuk meniti karir di Angkatan Darat. Hasyim menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia sekaligus sebagai penyandang dana untuk mewujudkan ambisi Prabowo menjadi presiden. Prabowo juga menikmati kehidupan yang mewah, tinggal di peternakannya yang sangat luas dan mewah di Hambalang yang sekaligus menjadi istal bagi kuda-kudanya yang mahal. Perlu dicatat, kedua kakak beradik ini menjadi kaya dari usaha perburuan rente ekonomi, misalnya dari kayu dan sumber daya alam.

Selengkapnya Baca di : http://asiapacific.anu.edu.au/newmandala/2014/06/21/demokrasi-indonesia-dalam-bahaya/

Link Terkait Berita Demokrasi Indonesia Dalam Bahaya:

http://brita.indo.com/2014/06/demokrasi-indonesia-dalam-bahaya/

http://forum.viva.co.id/pemilu/1650126-demokrasi-indonesia-dalam-bahaya.html

Demokrasi Indonesia Dalam Bahaya asiapacific.anu.edu.au/newmandala/201… oleh Edward Aspinall – peneliti politik Indonesia di Australian National University

http://withrif.blogspot.com/2012/05/zona-bahaya-demokrasi-indonesia.html

Share This: