Bisnis Hukum Hutan Internasional Kebijakan Sumatera Selatan

Boikot Produk Sinarmas Si Perusak Alam

SiarIndonesia.Com – Sinarmas Grup, adalah salah satu penguasa terbesar perkebunan kelapa sawit dan kertas di Indonesia, dengan hasil produknya yang terkenal antara lain:

1. Buku/kertas ”Sinar Dunia”
2. Tissue ”Passeo”
3. Berbagai minyak goreng, dll.

Lewat anak usahanya, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau yang lebih dikenal dengan PT SMART Tbk, dan Asia Pulp and Paper (APP), Eka Tjipta Widjaja, sang pemilik, merambah dan membumihanguskan hutan di Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Sudah sekitar lima juta hektar hutan tropis di Indonesia yang dibabat lalu dijadikan perkebunan sawit dan pulp oleh taipan ini.

Tak heran jika kemudian hal itu menjadikan Eka Tjipta sebagai orang terkaya se Indonesia versi Bloomberg 2012.

Taipan yang satu ini bukanlah orang sembarangan.
Ia diduga sudah menguasai semua lini pemerintahan di Indonesia. Mulai kepala desa, tetua adat di pedalaman, sampai para pembuat keputusan puncak di Jakarta, semua ekornya sudah diikat dan dipegang oleh Eka Tjipta.

Kebanyakan mereka tak berkutik di bawah kekuasaan uang sang trilyuner.

Satu-satunya lawan seimbang Sinarmas mungkin hanya kelompok penggiat lingkungan hidup, seperti Greenpeace.

Berkat usaha para penggiat lingkungan, beberapa perusahaan kelas kakap konsumen produk PT.SMART dan APP, memutuskan untuk menghentikan pembelian barang dari Sinarmas Grup.

Demikian pula beberapa bank memutuskan untuk tidak lagi ikut konsorsium pembiayaan proyek pemusnahan hutan ala Sinar Mas. Di antara perusahaan-perusahaan itu adalah :
1. Nestle.
2. Burger King.
3. Carrefour.
4. Abengoa.
5. HSBC.
6. Unilever.
7. KFC
8. Walt Disney

Perusahaan-perusahaan ini menyadari bahwa partnernya itu adalah salah satu perusahaan kapitalis yang tidak punya komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologi.

Perihal nyaris punahnya orangutan di Kalimantan dan Harimau Sumatera di Jambi, Sinarmas dianggap punya andil paling besar.

Meski pun Sinar Mas berdalih dan beraksi segala macam, seperti aktif di Konferensi untuk Kelapa Sawit Berkelanjutan atau Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO).

RSPO adalah sebuah komitmen prakarsa kalangan industri yang bersifat sukarela, yang bertujuan untuk mengembangkan sistem sertifikasi untuk produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan berdasarkan sejumlah prinsip dan kriteria.
sinarmas criminal
Banyak kritik yang diarahkan ke badan ini, terutama terkait dengan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa anggota-anggotanya, termasuk Sinarmas, terus merusak hutan dan lahan gambut lain dengan melakukan pembakaran lahan.

Lihat bencana asap, setiap tahun terus terjadi akibat pembakaran lahan dan hutan. Tahun 2015 ini misalnya, menurut NASA kebakaran hutan di Indonesia sebagai yang terparah dalam sejarah.

Ratusan ribu warga terkena ISPA, belasan orang tewas dan melumpuhkan ekonomi.

Fakta lain di lapangan menunjukkan bahwa jumlah orangutan, gajah sumatera dan harimau sumatera makin kritis, seiring hilangnya habitat hewan dilindungi ini.

Sebagian besar habitat hewan liar yang dilindungi undang-undang ini telah berubah menjadi kebun sawit maha luas milik Eka Tjipta Widjaja.

Begitu juga dengan pencetakan perkebunan sawit di atas lahan gambut dalam, Sinar Mas secara nyata telah melanggar ketentuan undang-undang.

Padahal secara jelas telah dikatakan bahwa hutan dengan dasar gambut berkedalaman 4 meter atau lebih, tidak boleh dikonversi menjadi lahan apa pun. Lihat Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan.

Sinar Mas juga dikenal sebagai perampas tanah rakyat dan perampok wilayah adat, hak ulayat dan tidak menghormati hukum yang berlaku.

Anak-anak telanjang suku Dayak di Kalimantan, suku Sakai di Riau, suku Anak Dalam di Jambi, hanya bisa menangis sedih saat gubuk-gubuk tinggi milik orang tua mereka diratakan dengan tanah. Excavator dan buldoser perkasa telah mengusir mereka.

Sinarmas disinyalir juga berkolusi dengan para pejabat, memusnahkan hutan di tanah air.

Ia menjadi pembunuh nomor satu terhadap kehidupan orangutan, gajah sumatera dan harimau sumatera. Begitu pula dengan cendrawasih di Papua, yang kini hampir punah, ketika hutan rimba papua ditebang.

Kayunya dijadikan bubur kertas, lalu tanahnya diubah menjadi lahan sawit pendongkrak kekayaan sang kapitalis sejati.

Tinggallah anak bangsa yang tertipu, menjadi kuli dan kacung di raksasa Sinarmas.

Sementara itu, para pejabat dan politikus, hidup bermewah- mewah di atas kehancuran lingkungan hidup.

Inilah Indonesia, tempat dimana pengusaha dan penguasa berkolusi memeras kekayaan bumi pertiwi milik rakyat.

Share This: